Rabu, 23 Januari 2013

The Endless Smile

Saat ku menatap benda hijau ini,
Sulit untukku mencerna kembali,
Tetapi tetap mengerti,
Bagaimana mungkin aku bisa terbodohi.

Dengan segenap keberanian,
Aku melakukannya,
Melepas semua harapan,
Dan mengepakan sayapku untuk terbang.

Air mataku seketika ingin menetes,
Tetapi aku tak membiarkan itu terjadi,
Ku hentikan bebanku,
Dan air mataku berhenti sampai di permukaan mataku.

Ini bukan saatnya untuk mencari luka,
Dan membuat harapan konyol,
Sudah cukup ini semua bagiku,
Ku akan menemui senmyuman itu kembali.

The Endless Hope

Saat kata itu terdengar,
Saat telingaku mendengar,
Semuanya menjadi berubah,
Otak-ku semakin bekerja,
Dan bekerja sangat cepat menemukan,
Ku raih kesimpulan itu,
Dan aku hanya tersenyum kecil,
Perasaan yang tak mungkin dibodohi.

Bayangmu kini tak lagi membuatku tersenyum dan geli,
Bayangmu tidak membuatku tertawa kembali,
Bayangmu tidak membuat jantungku berdetak cepat lagi,
Tapi kini, bayangmu membuatku menghela napas, dan membuangnya kembali.

Benda ini semakin membuatku mengerti,
Benda ini membuatku berfikir, dan semakin berfikir,
Menghentikan setiap urat wajah yang membuatnya merah,
Menghentikan kegugupanku dan mengubahnya menjadi senjata bertahan.

Aku ingin sekali mengucapkan terimakasih,
Atas segala yang membuatku tertawa,
Dan membuatku berhenti sejenak,
Tetapi kuharap ini tidak berarti sejenak.

Terbesit keinginanku untuk mengembalikan benda ini,
Benda ini mengingatkanku bahwa ini sama sekali tidak sama,
Sulit untuk membuatnya nyaman,
Seperti hanya memberi energi sementara.

Dia hadir,
Hanya untuk wanita lain,
Ku anggap semua ini baik-baik saja,
Dan akan menjadi bahagia dalam penglihatanku, tapi tidak dengan batinku.

Aku tidak menyesal atas segala yang telah menjadi ingatan,
Wajah yang seketika menjadi pucat,
Wajah yang seketika menjadi merah,
Bibir yang seketika bergemetar.

Aku akan menggenggam sejuta kekuatan,
Aku akan memeluk erat sang rembulan,
Dan aku akan mencari sinar sang surya,
Untuk tetap membuatku berhenti untuk luka.